Pusaka Negara
Dam Nan Membekas di Tanah Air Tercinta
Taman
Rekreasi Selabintana adalah salah satu keindahan alam yang masyhur pesona
keindahannya, Ia terletak di kaki Gunung Gede dan Pangrango yang ketinggiannya
mencapai 584 m diatas permukaan laut, ia menyajikan suasana hijau sehingga akan
membuat siapapun yang berkunjung merasa nyaman dan tidak ingin meninggalkan
nya.
Gemuruh
aktivitas masyarakat dan teriakan supir angkutan kota memanggil-manggil calon
penumpang, itulah sambutan yang terdengar saat saya dan seorang teman saya
menginjakan kaki di pusat kota Mandiri. Teriknya matahari yang mencoba
menjatuhkan semangat perjalanan kami, saya pun tak pantang menyerah untuk
meneruskan perjalanan panjang dengan angkutan kota menuju Taman Rekreasi
Selabintana, perjalanan yang menanjak tidak menjadikan sebuah problematis supir
angkutan untuk mengantarkan penumpangnya hingga ke tujuan akhir yaitu taman
rekreasi Selabintana. Pandangan gelak tawa dan canda anak-anak sekitar mewarnai
perjalanan meletihkan itu. Rasa tak sabar pun semakin berkobar-kobar tatkala
saya hampir sampai ke Taman Rekreasi Selabintana.
Akhirnya,
perjalanan yang meletihkan itu terbayar dengan udara yang begitu sejuk dan
sajian pohon tinggi di setiap sisi pintu masuk Taman Rekreasi Selabintana. Saya
berjalan dengan penuh penasaran dengan segala keindahan yang dimikili taman
wisata nan mempesona itu, sebelumnya saya menghampiri loket dan ketika itu kami
langsung disambut dengan senyuman bersahabat oleh seorang penjaga loket, taman
rekreasi itu sudah di padati pengunjung sejak jam 10 pagi. Dan dengan hanya
membayar Rp 5000.- saja setiap pengunjung yang berjalan kaki sudah dapat
berjalan-jalan di seluruh kawasan taman yang sangat memanjakan pengunjung nya
dengan kesejukan udara yang masih natural. Ketika masuk kedalam kawasan taman
saya pun langsung di manjakan dengan pemandangan bangunan Hotel Selabintana
yang berdiri kokoh dengan warnanya yang begitu suci. Namun tak sampai 15 menit
kami masuk ke dalam kawasan taman itu, cuaca yang sebelumnya terang-benderang
dengan awan yang indah menghiasi langit biru, kini mulai berubah menjadi langit
yang gelap karena munculnya awan hitam disertai suara cemeti malaikat yang
sudah memperingati bahwa akan turun hujan, sesaat itu langit yang kelam mulai
meneteskan rintik-rintik air sehingga saya pun berteduh di bangunan yang
terlihat malang-melintang yang sepertinya bangunan yang sudah lama tak terpakai
di belakang hotel. Hujan deras telah merubah panorama pepohonan menjadi tak
begitu jelas terlihat akibat kabut-kabut yang menyelimuti kawasan taman,
obroloan-obrolan yang menyanjung tentang ke indahan kawasan taman adalah cara
saya untuk menunggu hujan sampai mereda.
Tak berapa lama hujan pun mereda dan kabut-kabut yang menyembunyikan keindahan
panorama pepohonan dengan perlahan menghilang, saya pun bergegas melanjutkan
perjalanan untuk sampai kepuncak taman tersebut, sekitar 30 meter dari tempat
berteduh. Saya pun dikejutkan dengan pemandangan padang rumput luas yang
dihiasi oleh barisan pohon pinus disisi padang rumput itu, dan tidak jauh dari
padang rumput nan elok dipandang itu, terlihat sebuah pendopo tua yang dipenuhi
oleh pengunjung juga para pedagang yang biasa terlihat ditempat-tempat wisata
pada umum nya, saya pun menghampiri pendopo untuk beristirahat sejenak,
kemudian terdengar suara tawa dan kebahagiaan para pengunjung yang
menenteramkan hati, suasana yang riang dan cuaca yang semakin dingin membuat
tubuh saya kaku kedinginan sehingga saya membeli satu cangkir teh panas untuk
menghangatkan kembali tubuh saya.
Setelah
beristirahat dan menikmati satu cangkir teh panas saya pun melanjutkan
perjalanan hingga ke puncak taman wisata itu, perjalanan saya pun di iringi
dengan hembusan angin yang menyejukkan kalbu serta pemandangan padang rumput
dan pohon-pohon yang seperti menuntun semangat perjalanan saya agar mencapai ke
puncak dengan segera, sekitar 100 meter dari pendopo saya pun sampai ke puncak
Taman Rekreasi Selabintana. Dan sesampainya dipuncak taman, alangkah terkejut nya
saya hingga tak bisa berkata-kata karena keindahan alam nan menakjubkan itu
ternyata ada di Tanah Air tercinta kita yaitu Indonesia, ini adalah salah satu
bukti nyata yang saya lihat bahwa Negara kita itu sangat kaya akan keindahan
alamnya, dari puncak taman itu terlihat sangat jelas Gunung yang menjulang
tinggi dengan dihiasi kebun teh yang membentang disetiap sisi lereng gunung nan
mempesona. Tak ingin menyia-nyia kan kesempatan emas ini, saya langsung
mengabadikan panorama yang sangat memanjakan mata yang melihatnya, dan setelah
beberapa lama saya berada dan menikmati panorama hijau yang membentang dengan
gunung yang tinggi menjulang dari puncak taman.
Saya
pun penasaran dan bertanya kepada salah satu pengunjung tentang apa yang ia
rasakan saat berada di taman rekreasi ini, ia menjawab dengan riang gembira jika
tempat ini sangat mempesona dan membuat kenyamanan tersendiri karena menurutnya
pengelolaan ditempat ini pun sangat terjaga keamanannya. Setelah bertanya
dengan pengunjung, pandangan saya langsung tertuju pada seorang pedagang yang
terlihat setia menunggu pembeli di area puncak taman, kemudian saya menghampiri
nya untuk sedikit bertanya, ia adalah seorang pedagang bakso, dan sudah
berjualan bakso selama 8 tahun, dengan adanya taman wisata ini membuat
penghasilannya sedikit meningkat dibanding kan dengan hanya berjualan di
sekolah-sekolah. Rasa kekaguman saya dengan taman yang sangat kaya akan ke
indahan alamnya dan memiliki lingkungan yang sejuk, membuat saya penasaran juga
tentang sedikit sejarah tentang terbentuk nya Taman Rekreasi Selabintana. Dan
yang saya sedikit tahu sejarah singkat dari pihak pengelola taman tentang
sejarah taman ini. Selabintana ini ternyata ditemukan oleh seorang
berkebangsaan Belanda, bernama AAE Lenne (1853-1916) dan pada masa pemerintahan
Belanda, Sukabumi di jadikan sebagai pusat perkantoran untuk mengurus
perkebunan yang tersebar di beberapa tempat. Karena letak perkantoran nya yang
sangat disukai oleh petinggi perusahaan perkebunan tersebut, maka Lenne sang
pendiri mengubah perkantoran itu menjadi sebuah hotel yang bernama Hotel
Selabintana, dan pada tahun 1924 Lenne mewariskan Hotel Selabintana kepada
anaknya yang bernama GE Lene (1897 – 1976). GE Lene kemudian mengangkat
Losbakker kebangsaan Belanda untuk mengelola Hotel Selabintana, dan berkat
hasil pengelolaannya Bakker berhasil meninggkatkan kunjungan warga Belanda ke
Selabintana. Selabintana yang dahulu di dirikan oleh kebangsaan Belanda kini
sudah sepenuhnya dimiliki oleh Tanah Air tercinta, maka sudah seharuhnya kita
memelihara dan melestarikan keindahan alam yang kita miliki.